Kuda yang Menari

Desember 9, 2009

Pernah melihat kuda menari? Kalau belum coba datanglah ke Sumedang. Di kota ini terdapat sebuah kesenian yang unik, kuda yang menari diiringi musik. Kesenian ini biasanya diadakan untuk merayakan sunatan. Si anak yang di sunat dinaikkan ke kuda renggong yang akan di arak mengelelingi desa.

Tahun 2010, kuda renggong genap berusia 100 tahun. Sejak pertama kali di praktekkan sebagai sebuah kesenian rakyat hasil sabda seorang raja, kuda renggong kini telah mengantarkan jutaan anak memasuki pintu gerbang kedewasaan.

Kini mungkin saatnya kuda renggong benar-benar menjadi primadona. Kesenian yang unik ini harusnya menjadi daya tarik utama dan bahkan menjadi identitas Sumedang. Sumedang, where the horses dance.

BlogCatalog

Agustus 25, 2009

Academic,  Learning & Educational Blogs - BlogCatalog Blog Directory

Hari ini, kedutaan besar Indonesia di Belanda mengadakan pesta rakyat untuk menyambut HUT RI. Ga kalah seru dengan di Indonesia. Mungkin karena merasa senasib sepenanggungan di negeri orang. Mungkin juga karena sudah lama ga makan empek-empek, mie baso, siomai, es dawet, lapo, dan berbagai kuliner khas Indonesia lainnya. Mungkin karena tempat ajang kumpul2 orang perantauan, yang 24/7 sibuk mencari euro atau membuat paper dan di sinilah oase yang menyejukkan.

Pasar rakyat yang ceria dan merakyat, bahkan beberapa warga Belanda pun datang untuk ikut antri mie baso atau sate kambing. Tawa ceria di wajah anak-anak yang didandani dengan pakaian adat indonesia. Sungguh nostalgik, ingatan masa kecil memang bisa membuat aku tersenyum walau deadline thesis semakin mendekat.

Yang membuat ku terpana adalah seorang nenek yang menggunakan kebaya brokat hijau. Pemandangan yang asing di Belanda. Namun sosok inilah yang membuatku semakin terlempar dalam nostalgi. Mungkin kalo aku datang lebih pagi aku bisa semakin tersedot dalam pusaran mesin waktu dan melupakan ruang jasadku. Dengan lomba makan kerupuk, balap karung, dan banyak lagi lomba kecuali panjat pinang semakin membebaskan diriku dari kesadaran ruang bahwa aku di negeri orang.

Di Indonesia sendiri, sejak kuliah aku sudah tak pernah lagi ikut lomba di RT-RW tempat kos ku. Nonton pesta tujuhbelasan pun tidak. Malah menggerutu karena biasanya bikin macet, bising, dan tidak esensial. Namun di tengah kebanalan inilah rasa yang nostalgik itu sekarang muncul. Rasa yang melampaui ruang dan waktu, rasa prinordial yang mungkin tak terbahasakan.

Ya kita punya makna masing-masing tentang peringatan tujuhbelasan. Ini sekelumit makna yang kurasakan tadi. Lalu apa makna 17an bagi anda? Silahkan berbagi di sini

Preambule

Agustus 14, 2009

Ya, saya bukan igniter dalam perbincangan di media sosial. Saya hanyalah observer pasif, sesekali memberi komen kalo tangan sudah gatel. Kebanyakan aktivitas saya membaca posting pemilik blog, menyelami pemikiran lewat berbagi diskusi di forum, tertawa sendiri mendengar shout teman-teman di jejaring sosial.

Daya sedot dari sebuah media baru ini ternyata sungguh kuat. Sebagai subjek yang merasa dirinya bebas, saya akhirnya memutuskan dengan pikiran yang menurut saya bebas untuk sedikit meninggalkan jejak-jejak pemikiran, curahan hati, letupan keisengan, atau ide yang lama membatu di sudut pemikiran saya.

Ketika sedang mencari data thesis, saya merasakan sendiri kuasa jejaring sosial yang konon merevolusi hampir semua sendi interaksi kita sebagai homo sapiens. Dengan satu post, kuisioner saya menyebar tanpa sanggup saya kontrol. Kondisi tanpa kontrol inilah yang justru produktif. Saya mendapat berbagai insight, berbagai komentar, dan kontak serta teman baru.

Jujur inilah yang membuat saya akhirnya menulis di sini. Mencoba berbagi dan bereksperimen dengan media yang merubah wajah dunia ini. Saya mau menulis bebas di sini, saya mau sok tahu di sini, saya mau sok berekspresi di sini, dan saya mau mendengarkan suara-suara orang-orang seperti saya di sini.

Masih dalam cerita yang sama, mencari data untuk thesis saya tiba-tiba menemukan blog dari salah seorang mentri di Indonesia di http://juwonosudarsono.com/wordpress/ Mungkin ini satu-satunya mentri di Indonesia yang bikin blog, CMIIW. Sebuah langkah berani untuk menulis di tengah budaya yang merendahkan tulisan. Siapa lagi yang akhirnya akan menyusul pak mentri ini? Apakah pejabat-pejabat pendidikan di Indonesia juga punya blog? Apakah Bupati, Walikota, Gubernur, Ketua Parpol, mau dan mampu untuk menulis blog?

Menurut anda apakah mereka yang duduk di kursi pemerintahan dan politik menyadari potensi media baru ini untuk bisa mendengar suara yang terpinggirkan?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.